Belajar Manajemen Keuangan dari Buku “The Psychology of Money” Serta Kaitannya dengan Lembaga Pemasyarakatan
Belajar Manajemen Keuangan dari Buku “The Psychology of Money” Serta Kaitannya dengan Lembaga Pemasyarakatan
Judul Buku : The Psychology of Money
Penulis : Morgan Housel
Terbit : 2021
Halaman : 262 Halaman
ISBN : 978-602-6486-57-8
Uang memang bukan segalanya,
tapi segalanya butuh uang. Manusia adalah makhluk yang mudah lupa diri saat
sudah memiliki sesuatu yang berharga, seperti uang ini. Memiliki banyak uang
tanpa memiliki ilmu dan manajemen keuangan yang baik adalah sebuah kesia-siaan
dalam hidup. Dalam buku ini dibahas mulai dari emosi, cara mengelola pikiran,
dan perilaku ketika berhadapan dengan uang agar mampu menggunakan uang dengan
bijak dan dapat bermanfaat. Memanajemen uang bukan hanya saat kita memiliki
banyak uang, tetapi bagaimana kita mengolah sesedikit apapun uang yang kita
miliki agar mampu mencukupi segala sesuatu yang diperlukan. Hal ini memerlukan
kecerdasan, pengetahuan, dan kemampuan berhitung sebagai parameter dalam
mengelola uang.
The Psychology of Money
terdiri dari 262 halaman berisi 19 cerita pendek yang mengisahkan tentang
pemikiran dan perilaku orang dalam mengelola keuangan termasuk tipsnya dalam
mengelola keuangan. Buku ini masuk dalam buku terlaris versi amazon, bahkan
telah diterjemahkan dalam 26 bahasa
Ada salah satu kisah nyata
yang diceritakan dalam buku ini, yang mana menurut saya adalah yang paling
berkesan. Mengisahkan antara dua orang yang berbeda latar belakang dan profesi.
Orang tersebut adalah Ronald James Read yang bekerja sebagai petugas kebersihan
di pom bensin. Ia bukan seseorang yang memiliki pendidikan tinggi dan
penghasilannya pun yang tidak seberapa. Berbeda dengan Ronald, Richard Fuscone
adalah seseorang yang berpendidikan ekonomi lulusan Harvard dan bekerja sebagai
eksekutif perusahaan. Pendidikannya yang tinggi nyatanya tidak mampu membuatnya
matang dalam hal mengatur keuangan, di tahun 2008 ia menyatakan diri mengalami
kebangkrutan akibat dari krisis ekonomi. Hal tersebut diakibatkan oleh gaya
hidupnya yang boros dan tidak mampu menyimpan uangnya hingga ia beberapa kali
harus menghutang. Ronald yang berpenghasilan lebih sedikit daripada Fuscone,
diakhir hayatnya ia mampu mengumpulkan uang sebanyak 8 Juta USD atau 114,6
Miliar Rupiah. Uang sebanyak itu mampu ia kumpulkan sebab dirinya rajin menabung
dan mampu mengelola kondisi keuangan dengan bijak. Bijak dalam mengelola uang
adalah hal yang mampu menyelamatkan kita di masa mendatang.
Buku ini berisi cerita dan
pesan yang bermakna yang mudah dipahami. Bukan hanya untuk kalangan tertentu,
buku ini dapat dibaca oleh siapa saja dan usia berapa saja. Kisah yang tertulis
dalam buku relate dengan kehidupan kita sehari-hari dan berguna untuk
menambah wawasan kita. Namun, tidak semua hal dalam buku ini bisa diterapkan
dalam kehidupan, sebab kondisi setiap orang yang berbeda. Namun, hal tersebut
tidak mengurangi essensi makna yang ingin disampaikan oleh penulis.
Ada 5 hal yang setidaknya
dapat kita terapkan untuk memanajemen keuangan yang dapat diambil dari buku ini, yaitu
- 1. Prioritaskan prioritas
Bagaimana maksudnya?
Prioritaskan prioritas adalah mengutamakan kebutuhan yang benar-benar urgent
dan mengesampingkan hal-hal yang kurang penting. Banyak dari kita yang terbiasa
menganggap semua perlu dibeli, namun ingatlah essensi dari setiap barang
tersebut. Apakah itu penting dan benar-benar kita butuhkan atau hanya emosi
sesaat dari pikiran kita yang ingin memiliki barang tersebut.
- 2.
Karakter
individu tidaklah sama
Dalam hal
mengelola keuangan memang tidak ada pengaruh spesifik dari psikologi manusia,
namun dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal. Faktor internal
diantaranya berasal dari pengalaman pribadi, perjalanan hidup, kondisi ekonomi,
dan motivasi diri. Sedangkan dari eksternal dipengaruhi oleh status sosial,
pola asuh, dan lingkungan tempat tinggal. Faktor-faktor tersebut mempengaruhi
sudut pandang seseorang terhadap uang dan cara mengelolanya.
- 3.
Bahagia
dan tamak itu berbeda
Mencari uang
tidak salah, yang salah adalah ketika menjadikan uang sebagai kebahagiaan.
Sebab, hal tersebut akan membuat seorang individu itu menjadi tamak.
- 4.
Pengalaman
pribadi sebagai dasar dalam mengambil keputusan
Banyak yang
berkata bahwa pengalaman adalah guru kehidupan, mungkin benar. Dalam mengambil
keputusan kita perlu belajar dari hal-hal yang telah kita lalui sebelumnya
sebagai landasan.
- 5.
Konsisten
Belajar dari
Warren Buffet, sedikit tapi konsisten lebih baik daripada banyak namun cuma
sekali.
Sama halnya saat kita
mengelola uang dalam organisasi atau sebuah institusi, dalam hal ini akan saya
kaitkan dengan Lembaga Pemasyarakatan. Dalam Lapas, perputaran uang sangatlah
rentan dan memerlukan transparansi untuk menghindari penyelewengan keuangan.
Lapas mendapatkan sumber pendapatan hanya dari anggaran yang diberikan oleh
Kementerian, hal ini membuat Pimpinan harus pandai-pandai mengatur uang
tersebut agar mampu mencukupi kebutuhan narapidana yang berada di dalam Lapas.
Perputaran uang yang cepat
tanpa sebuah investasi mungkin akan membuat uang hanya sekedar lewat tanpa
memaknai esensi dari uang tersebut. Dalam hal ini, investasi keuangan bisa
dilakukan sebagai salah satu solusi untuk menambah pendapatan internal Lapas.
Apa yang bisa dilakukan? sesuai dengan prinsip buku ini, yang mana mengajarkan
bahwa mengelola uang bukan untuk kaya diri sendiri, namun mandiri dalam
mencukupi kebutuhan. Salah satu caranya dengan investasi secara berkelanjutan. Lapas
memiliki SDM yang cukup baik apabila dikelola dengan baik. SDM dalam hal ini
adalah para narapidana. Narapidana kita berikan pelatihan dan pembinaan
kemandirian yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan industry dan keahlian yang
mumpuni. Seperti usaha dagang, pertanian, perikanan, keterampilan memotong
rambut, pembuatan kerajinan, hingga montir. Selain diberikan keahlian usaha,
mereka juga harus dibekali dengan keahlian memanajemen keuangan. Hal ini supaya
dana yang telah diinvestasikan pada mereka mampu dikelola dengan baik dan
memberikan margin keuntungan yang dapat dibagi bersama.
Selain itu, perlu direncanakan langkah yang akan diambil ketika terjadi sesuatu diluar rencana. Seperti misalnya terjadi kegagalan produksi, tidak lakunya produk di pasar, dan problem lainnya. Dari sini perlu kita anggarkan keuangan untuk mengatasi hal tersebut. Meski sedikit, dana cadangan perlu disediakan demi meminimalisir resiko yang semakin besar yang sekiranya dapat terjadi di masa mendatang.
Buku ini banyak memberi sudut pandang baru dalam hal memanajemen keuangan. Bahwa manajemen keuangan itu bukan hanya sekedar mengumpulkan uang. Namun, bagaimana sikap kita mengatur kumpulan uang itu. Memanajemen keuangan mencakup dari penganggaran, perencanaan, pengelolaan resiko, dan prosedur.
Dari buku ini kita belajar
bahwa sebuah hal yang wajar jika manusia memiliki banyak rencana yang ingin
dilakukan, sama halnya dengan keuangan kita perlu merencanakan uang yang akan
kita gunakan agar uang tersebut memberi keuntungan bagi kita dan meminimalisir
kerugian sekecil apapun. Kemudian melakukan penganggaran khusus terhadap segala
kebutuhan kita agar tidak terjadi yang Namanya besar pasak daripada tiang.
Penganggaran sangat diperlukan agar kita terhindar dari hutang yang tidak
terduga yang dapat menjadi boomerang bagi kita di masa mendatang.
Selain hal tersebut, kita
perlu mengelola resiko apa saja yang sekiranya akan terjadi di masa mendatang.
Meskipun Tuhan adalah pemilik atas segala hal yang terjadi di dunia ini, namun
manusia juga harus berusaha merencakan tindakan yang akan dilakukan saat berada
dalam masa sulit.
Terakhir, yang paling penting
adalah mengontrol keinginan untuk membeli barang-barang tidak perlu. Sebab,
inti dari manajemen keuangan adalah membeli kebutuhan dan meminimalisir
kerugian. Membeli barang tidak perlu adalah kesia-siaan yang sangat berpengaruh
terhadap keberlangsungan anggaran perencaan dari penghasilan yang telah kita
dapatkan.

Komentar
Posting Komentar